Selasa, 01 Februari 2011

Madeline Leininger

TEORI KEPERAWATAN  MADELEINE LEININGER
”CULTURE CARE : DIVERSITY AND UNIVERSALITY THEORY”

A.  SEJARAH TEORI ‘CULTUR CARE’
Dr. Madeline Leininger, seorang perawat yang ahli antropologi, mempunyai andil besar dalam meningkatkan riset dalam perawatan trans-kultural dan dalam merangsang program-program studi yang erat kaitannya. Ia adalah pelopor keperawatan transkultural dan seorang pemimpin dalam mengembangkan  keperawatan transkultural serta teori asuhan keperawatan yang berfokus pada manusia. Leininger juga adalah seorang perawat professional pertama yang meraih pendidikan doctor dalam ilmu antropologi social dan budaya.

Madeline Leininger lahir di Sutton, Nebraska, dan memulai karir keperawatannya setelah tamat dari program diploma di “St. Anthony’s School of Nursing” di Denver. Pada tahun 1950 ia meraih gelar sarjana dalam ilmu biologi dari “Benedictine College, Atchison Kansas” dengan peminatan pada studi filosofi dan humanistik. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut ia bekerja sebagai instruktur, staf perawatan dan kepela perawatan pada unit medikal bedah sererta membuka sebuah unit perawatan psikiatri yang baru dimana ia menjadi seorang direktur pelayanan keperawatan pada St. Joseph’s Hospital di Omaha. Selama waktu ini ia melanjutkan pendidikan keperawatannya di ”Creigthton University ” di Omaha. Tahun 1954 Leininger meraih gelar M.S.N. dalam keperawatan psikiatrik dari ” Chatolic University of America” di Washington, D. C.  Ia kemudian bekerja pada  ”College of Health” di Univercity of Cincinnati, dimana ia menjadi lulusan pertama (M. S. N ) pada program spesialis keperawatan psikiatrik anak . Ia juga memimpin suatu program pendidikan keperawatan psikiatri di universitas tersebut dan juga  sebagai pimpinan dalam pusat terapi perawatan psikiatri di rumah sakit milik universitas tersebut.
Leininger bersama C. Hofling pada tahun 1960 menulis sebuah buku yang diberi judul ” Basic Psiciatric Nursing Consept  yang dipublikasikan ke dalam sebelas bahasa dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Selama bekerja pada unit perawatan anak di Cincinnati, Leininger menemukan bahwa banyak staff yang kurang memahami mengenai faktor-faktor budaya yang mempengaruhi perilaku anak-anak. Dimana diantara anak-anak ini memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Ia mengobservasi perbedaan- perbedaan yang terdapat dalam asuhan dan penanganan psikiatri pada anak-anak tersebut. Terapi psikoanalisa dan terapi strategi lainnya sepertinya tidak menyentuh anak-anak yang memiliki perbedaan latar belakang  budaya dan kebutuhan. Leininger melihat bahwa para perawat lain juga tidak menampilkan suatu asuhan yang benar-benar adequat dalam menolong anak tersebut, dan ia dihadapkan pada berbagai pertanyaan mengenai perbedaan budaya diantara anak-anak tersebut dan hasil terapi yang didapatkan. Ia juga menemukan hanya sedikit staff  yang memiliki perhatian dan pengetahuan mengenai faktor-faktor budaya dalam mendiagnosa dan manangani klien.

Suatu ketika, Prof. Margaret Mead berkunjung pada departemen psikiatri University of Cincinnati dan Leiniger berdiskusi dengan  Mead mengenai adanya kemungkinan hubungan antara keperawatan dan antropologi. Meskipun ia tidak mendapatkan bantuan langsung, dorongan, solusi dari Mead , Leininger memutuskan untuk melanjutkan studinya ke program doktor (Ph.D) yang berfokus pada kebudayaan, sosial, dan antropologi psikologi pada Universitas Washington. Sebagai seorang mahasiswa program doktor, Leininger mempelajari berbagai macam kebudayaan dan menemukan bahwa pelajaran antroplogi itu sangat menarik dan merupakan area yang perlu diminati oleh seluruh perawat. Kemudia ia menfokuskan diri pada masyarakat Gadsup di Eastern Highland of New Guinea, dimana ia tinggal bersama masyarakat tersebut selama hampir dua tahun. Dia dapat mengobservasi bukan hanya gambaran unik dari kebudayaan melainkan perbedaan antara kebudayaan masyarakat barat dan non barat terkait dengan praktek dan asuhan keperawatan untuk mempertahankan kesehatan.

Dari studinya yang dalam dan pengalaman pertama dengan masyarakat Gadsup, ia terus mengembangkan teori perawatan kulturalnya dan metode ethno nursing. Teori dan penelitiannya telah membantu mahasiswa keperawatan untuk memahami perbedaan budaya dalam perawatan, manusia, kesehatan dan penyakit. Dia telah menjadi pemimpin utama perawat yang mendorong banyak mahasiswa dan fakultas untuk melanjutkan studi  dalam bidang anthropologi dan menghubungkan pengetahuan ini kedalam praktik dan pendidikan keperawatan transkultural. Antusiasme dan perhatiannya yang mendalam terhadap pengembangan bidang perawatan transkultural dengan fokus perawatan pada manusia telah menyokong dirinya selama 4 dekade.

Tahun 1950-an sampai 1960-an, Leininger mengidentifikasi beberapa area umum dari pengetahuan dan penelitian antara perawatan dan anthropologi:  formulasi konsep keperawatan transkultural, praktek dan prinsip teori. Bukunya yang berjudul Nursing and anthropology : Two Words to Blend ; yang merupakan buku pertama dalam keperawatan transkultural, menjadi dasar untuk pengembangan bidang keperawatan transkultural, dan kebudayaan yang mendasari perawatan kesehatan. Buku yang berikutnya, ”Transcultural Nursing : Concepts, theories, research, and practise (1978 )” , mengidentifikasi konsep mayor, ide-ide teoritis, praktek dalam keperawatan transkultural, bukti ini merupakan publikasi definitif pertama dalam praktek perawatan treanskultural. Dalam tulisannya, dia menunjukkan bahwa perawatan treanskultural dan anthropologi bersifat saling melengkapi satu sama lain, menkipun berbeda. Teori dan kerangka konsepnya mengenai  Cultural care diversity and universality dijelaskan dalam buku ini.

Sebagai perawat profesional pertama yang melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor dalam bidang antropologi dan untuk memprakarsai beberapa program pendidikan magister dan doktor, Leininger memiliki banyak bidang keahlian dan perhatian. Ia telah memepelajari 14 kebudayaan mayor secara lebih mendalam dan telah memiliki pengalaman dengan berbagai kebudayaan. Disamping perawatan transkultural dengan asuhan keperawatan sebagai fokus utama , bidang lain yang menjadi perhatiannya adalah administrasi dan pendidikan komparatif, teori-teori keperawatan, politik, dilema etik keperawatan dan perawatan kesehatan, metoda riset kualitatif, masa depan keperawatan dan keperawatan kesehatan, serta kepemimpinan keperawatan. Theory of Culture Care saat ini digunakan secara luas dan tumbuh secara relevan serta penting untuk memperoleh data kebudayaan yang mendasar dari kebudayaan yang berbeda.

B. PENGERTIAN
“Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budayakepada manusia” (Leininger, 2002).

C. ASUMSI DASAR
Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi
dari keperawatan, membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakankeperawatan. Tindakan Caring dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku Caring semestinya diberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal.

Human caring secara umum dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan dan bimbingan pada manusia yang utuh. Human caring merupakan fenomena yang universal dimana ekspresi, struktur dan polanya bervariasi diantara kultur satu tempat dengan tempat lainnya.

D. KONSEP DAN DEFINISI DALAM TEORI LEININGER
  1. Budaya (Kultur) adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.
  2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan.
  3. Cultur care diversity (Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan) merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
  4. Cultural care universality (Kesatuan perawatan kultural) mengacu kepada suatu pengertian umum yang memiliki kesamaan ataupun pemahaman yang paling dominan, pola-pola, nilai-nilai, gaya hidup atau simbol-simbol yang dimanifestasikan diantara banyak kebudayaan serta mereflesikan pemberian bantuan, dukungan, fasilitas atau memperoleh suatu cara yang  memungkinkan untuk menolong orang lain (Terminlogy  universality) tidak digunakan pada suatu cara yang absolut atau suatu temuan statistik yang signifikan.

  1. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.
  2. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.
  3. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada
    mendiskreditkan asal muasal manusia.
  4. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.
  5. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.
  6. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing,
    mendukung dan mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
  7. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.
  8. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.



E. PARADIGMA KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai
cara pandang, keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat, lingkungan dan keperawatan (Andrewand Boyle, 1995).

1. Manusia
Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai
dan norma-norma yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan
melakukan pilihan. Menurut Leininger (1984) manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

2. Sehat
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi
kehidupannya, terletak pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and Boyle, 1995).

3. Lingkungan
Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi
perkembangan, kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang
sebagai suatu totalitas kehidupan dimana klien dengan budayanya saling
berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.

4. Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

a. Cara I : Mempertahankan budaya
Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan
dengan kesehatan. Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan
sesuai dengan nilai-nilai yang relevan yang telah dimiliki klien sehingga
klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status kesehatannya,
misalnya budaya berolahraga setiap pagi.

b. Cara II : Negosiasi budaya
Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk
membantu klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatan. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan
kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang
berbau amis, maka ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani lain.

c. Cara III : Restrukturisasi budaya
Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki
merugikan status kesehatan. Perawat berupaya merestrukturisasi gaya
hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak merokok. Pola rencana
hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.

F. PROSES KEPERAWATAN ‘TRANSCULTURAL NURSING’
Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (sunrise model) seperti yang terlihat pada gambar 1. Geisser (1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. The Sunrise Model ( Model matahari terbit)
Sunrise Model dari teori Leininger dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Matahari terbit sebagai lambang/ symbol perawatan. Suatu kekuatan untuk memulai pada puncak dari model ini dengan pandangan dunia dan keistimewaan struktur sosial untuk mempertimbangkan arah yang membuka pikiran yang mana ini dapat mempengaruhi kesehatan dan perawatan atau menjadi dasar untuk menyelidiki berfokus pada keperawatan profesional dan sistem perawatan kesehatan secara umum. Anak panah berarti mempengaruhi tetapi tidak menjadi penyebab atau garis hubungan. Garis putus-putus pada model ini mengindikasikan sistem terbuka. Model ini menggambarkan bahwa tubuh manusia tidak terpisahkan/ tidak dapat dipisahkan dari budaya mereka.

Suatu hal yang perlu diketahui  bahwa masalah dan intervensi keperawatan tidak tampak pada teori dan model ini. Tujuan yang hendak dikemukakan oleh Leininger adalah agar  seluruh terminologi tersebut dapat  diasosiasikan oleh perawatan profesional lainya. Intervensi keperawatan ini dipilih tanpa menilai cara hidup klien  atau nilai-nilai  yang akan dipersepsikan sebagai suatu gangguan, demikian juga masalah keperawatan tidak selalu sesuai dengan apa yang menjadi pandangan klien. Model ini merupakan suatu alat yang produktif untuk memberikan panduan  dalam pengkajian dan perawatan yang sejalan dengan kebudayan serta  penelitian ilmiah.


 2. Proses Keperawatan

  1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada "Sunrise Model" yaitu :

1). Faktor teknologi (tecnological factors)
Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau
mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan
kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit, kebiasaan
berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan
kesehatan, alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien
tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi
permasalahan kesehatan saat ini.

2). Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang
amat realistis bagi para pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang
sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya, bahkan di
atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat
adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien
terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang
berdampak positif terhadap kesehatan.

3). Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama
lengkap, nama panggilan, umur dan tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.

4). Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan
oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. Norma-norma
budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas
pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang
digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam kondisi
sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan
membersihkan diri.


5). Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala
sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan
keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan
jam berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara
pembayaran untuk klien yang dirawat.

6). Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber
material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh.
Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya : pekerjaan
klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor
atau patungan antar anggota keluarga.

7). Faktor pendidikan (educational factors)
Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam
menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi
pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh buktibukti
ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri
tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

     b. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang
budayanya yang dapat dicegah, diubah atau dikurangi melalui intervensi
keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995). Terdapat tiga diagnosa
keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur, gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.

    c. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah
suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah
suatu proses memilih strategi yang tepat dan pelaksanaan adalah
melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam
keperawatan transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki klien bertentangan dengan kesehatan.

    a. Cultural care preservation/maintenance
   1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses
       melahirkan dan perawatan bayi.
   2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien
   3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat

  1. Cultural care accomodation/negotiation
1)    Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien.
2)    Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
3)    Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana
kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis, pandangan klien
dan standar etik

     c. Cultual care repartening/reconstruction
    1)  Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan  
          dan melaksanakannya.
     2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya
         kelompok
     3) Gunakan pihak ketiga bila perlu
4)    Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan orang tua
5)    Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan

Perawat dan klien harus mencoba untuk memahami budaya
masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.




Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap
keberhasilan klien tentang mempertahankan budaya yang sesuai dengan
kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

Globalisasi menyebabkan masyarakat hidup dalam suasana multikultural yang disebabkan karena migrasi antar daerah dan negara menjadi lebih mudah. Keperawatan transkultural menjadi komponen utama dalam kesehatan dan menjadi konstituen penting dari perawatan, yang mengharapkan para perawat kompeten secara budaya dalam praktek sehari-hari. Perawat yang kompeten dalam budaya memiliki pengetahuan tentang budaya lain dan terampil dalam mengidentifikasi pola-pola budaya tertentu sehingga dirumuskan rencana perawatan yang akan membantu memenuhi tujuan yang telah ditetapkan untuk kesehatan pasien (Gustafson, 2005).

Selain itu, praktik keperawatan memberikan perawatan yang holistik. Pendekatan holistik ini meliputi perawatan fisik, psikologi , emosional, dan kebutuhan rohani pasien. Penting untuk menekankan bahwa perawat harus mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan tersebut agar dapat memberikan perawatan individual, yang telah ditetapkan sebagai hak pasien dan merupakan ciri praktek keperawatan profesional (Locsin, 2001). Dalam rangka untuk memberikan perawatan holistik, perawat juga harus harus mempertimbangkan perbedaan budaya dalam membuat rencana keperawatan.

Dengan demikian, perawat harus mempunyai kompetensi budaya dalam praktek sehari-hari mereka agar pasien merasa dikenal dan diperhatikan sebagai individu dalam suatu sistem kesehatan yang sangat kompleks dan beragam secara budaya. Pekerja sosial menggambarkan kompetensi budaya sebagai suatu proses terus-menerus berusaha untuk menyadari, menghargai keragaman, dan meningkatkan pengetahuan tentang pengaruh budaya (Bonecutter & Gleeson, 1997). Dan perawat telah mengadopsi konsep ini. Perawat menggambarkan kompetensi budaya adalah kemampuan untuk memahami perbedaan budaya dalam rangka untuk memberikan layanan berkualitas kepada pasien dengan berbagai keanekaragaman budaya (Leininger, 2002).  Perawat yang mempunyai kompetensi budaya mempunyai kepekaan  terhadap isu-isu yang berkaitan dengan budaya, ras, etnis, gender, dan orientasi seksual.

Dengan memiliki pengetahuan tentang perspektif budaya pasien memungkinkan perawat untuk memberikan perawatan yang tepat dan efektif. Sebagai contoh, pada kasus pasien yang menolak untuk diberikan tranfusi darah dengan alasan agama, perawat yang mempunyai kompetensi budaya akan memahami dan mengatasi masalah pasien tersebut dengan masalah keanekaragaman budaya.

Perawat mungkin menghadapi pasien dari berbagai budaya dalam praktek sehari-hari dan tidak mungkin perawat dapat memahami seluruh keanekaragaman budaya. Namun, perawat dapat memperoleh pengetahuan dan skill dalam komunikasi transkultural untuk membantu memfasilitasi perawatan individual yang didasarkan pada praktek-praktek budaya. Perawat yang terampil dalam komunikasi transkultural akan lebih siap untuk memberikan perawatan yang kompeten secara budaya untuk pasien mereka.

Baru-baru ini penelitian kualitatif menunjukkan bahwa masalah komunikasi adalah alasan utama perawat tidak dapat memberikan perawatan yang kompeten dalam budaya (Boi, 2000, Cioffi, 2003). Perawat menyampaikan bahwa mereka tidak nyaman  dengan pasien dari budaya lain selain mereka sendiri karena hambatan bahasa. Lebih penting lagi, para perawat menjelaskan bahwa mereka tidak dapat memahami isyarat-isyarat lain yang digunakan oleh para pasien untuk berkomunikasi. Perawat menyampaikan memerlukan pendidikan dan pelatihan untuk memahami arti isyarat-isyarat komunikasi nonverbal tertentu yang digunakan oleh kebudayaan yang berbeda, misalnya kontak mata, sentuhan, diam, ruang dan jarak serta keyakinan terhadap kesehatan.

Kontak mata adalah alat komunikasi yang penting, juga merupakan variabel yang paling berbeda diantara banyak budaya (Canadian Nurses Association, 2000). Perawat Amerika diajarkan untuk mempertahankan kontak mata ketika berbicara dengan pasien mereka. Berbeda dengan orang-orang Arab, yang menganggap kontak mata langsung tidak sopan dan agresif. Demikian pula, penduduk asli Amerika Utara juga menganggap kontak mata langsung hal yang tidak benar dalam budaya mereka, menatap lantai selama percakapan menunjukkan bahwa mereka mendengarkan dengan hati-hati dengan pembicara. Hispanik menggunakan kontak mata hanya bila dianggap tepat. Hal ini didasarkan pada usia, jenis kelamin, kedudukan sosial, status ekonomi, dan posisi kekuasaan. Misalnya, tetua Hispanik berbicara dengan anak-anak menggunakan kontak mata, tapi dianggap tidak pantas bagi anak-anak Hispanik  untuk melihat secara langsung pada tetua mereka ketika berbicara. Dalam lingkungan perawatan kesehatan, pasien Hispanik berharap bahwa perawat dan penyedia layanan kesehatan lainnya langsung memberikan kontak mata saat berinteraksi dengan mereka, tetapi tidak diharapkan bahwa pasien Hispanik membalas dengan kontak mata langsung ketika menerima perawatan medis dan keperawatan. Ini hanya beberapa contoh untuk menunjukkan bahwa orang-orang dari berbagai budaya kontak mata memandang berbeda. Sangat penting bahwa perawat harus sadar bahwa beberapa makna yang dapat disertakan pada kontak mata langsung agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan pasien.

Namun demikian berikut adalah kelebihan dan kekurangan Teori Transkultural dari Leininger :
A.   Kelebihan :
1.    Teori ini bersifat komprehensif dan holistik yang dapat memberikan  pengetahuan kepada perawat dalam pemberian asuhan dengan latar belakang budaya yang berbeda.
2.    Teori ini sangat berguna pada setiap kondisi perawatan untuk memaksimalkan pelaksanaan model-model teori lainnya (teori Orem, King, Roy, dll).
3.    Penggunakan teori ini  dapat mengatasi hambatan faktor budaya yang akan berdampak terhadap pasien, staf keperawatan dan terhadap rumah sakit.
4.    Penggunanan teori transcultural dapat membantu perawat untuk membuat keputusan yang kompeten dalam memberikan asuhan keperawatan.
5.    Teori ini banyak  digunakan sebagai acuan dalam penelitian dan pengembangan praktek keperawatan .

B.   Kelemahan :
1.    Teori transcultural bersifat sangat luas sehingga  tidak bisa berdiri sendiri  dan  hanya  digunakan sebagai pendamping dari berbagai macam konseptual model lainnya.
2.    Teori transcultural ini tidak mempunyai intervensi spesifik dalam mengatasi masalah keperawatan sehingga perlu dipadukan dengan model teori lainnya.

Akhirnya, menurut Leininger, tujuan studi praktek pelayanan kesehatan transkultural adalah meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya. Dengan mengidentifikasi praktek kesehatan dalam berbagai budaya (kultur) baik dimasa lalu maupun zaman sekarang, akan terkumpul persamaan-persamaan, sehingga kombinasi pengetahuan tentang pola praktek transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dari berbagai kultur.

Model Konservasi Levine

PEMAPARAN TINJAUAN TEORI
A.    GRAND TEORI
Suatu grand theory terdiri dari suatu kerangka konseptual global yang menggambarkan perspektif luas untuk praktik dan termasuk cara yang berbeda mengamati fenomena keperawatan berdasar pada perspektif-perspektif  tersebut (Tomey & Alligood, 2006).
Konsepsual model dan grand theory mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) cakupannya luas dan kompleks; (2) para ahli mengatakan grand theory merupakan rumusan teoritis mereka pada tingkat abstraksi yang sangat umum; (3) Sering dijumpai kesulitan dalam mengaitkan rumusan tersebut dengan realita; (4) Membedakan disiplin ilmu keperawatan dengan ilmu medis, dapat membantu perawat dalam menemukan dan mencapai tujuan keperawatan

B.     PROFIL DARI MIRA LESTIN LEVINE.
Mira Lestin Levine lahir di Chicago pada tahun 1920. Latar belakang pendidikannya adalah tamat Diploma Keperawatan tahun 1944, SB di Chicago University tahun 1949, kemudian tahun 19 menyandang Master Ilmu Keperawatan dari Wayne State University,menjadi Professor dalam Keperawatan medical Bedah tahun 1987.
Dalam karirnya sebagai perawat, Levine menjalani pekerjaan bervariasi antara lain perawat pribadi (1944), perawat di ketetaraan Amerika Serikat (1945), Instruktur praklinik dp physical sciences Cook Country (1947-1950),Direktur Keperawatan di Drexel Home Chicago (1950 – 1951, surgical supervaisor pada 2 rumah sakit yaitu klinik Universitas Chicago (1951-1952) dan Rumah Sakit Hendry Ford Detroit (1956 - 1962). PadaLevine juga mendapat banyak tanda jasa meliputi Charter Fellow of American Academy of Nursing, gelar kehormatan menjadi anggota bantuan kesehatan mental Amerika untuk Israil (1976), penghargaan Elizabeth Russell Belford (1977), American Journal of Nursing Book of the year.Levine pension pada tahun 1987, kemudian aktif mengembangkan teori dan melakukan penelitian berhubungan dengan teorinya.

C.    SUMBER TEORI LEVINE
Dalam mengembangkan teorinya Levine menggunakan dasar pemikiran yaitu perjalanan penyakit dan pandangan individu terhadap perubahan penyakit. teori-teori yang dipakai sebagai sumber teori Levine adalah teori Beland(1971); theory of specific causation and multiple factors, Gibson’s (1966); definition of perceptual system, Erikson’s (1964); different between total and whole, Selye’s (1956); stress theory, Bate’s (1967); model of external environment, Rogess (1970), dan Nigtinggale. Disamping itu Levine dalam mengembangkan teorinya dipengaruhi oleh teori Goldstein (1963), Hall (1966), Sherrington (1960), dan Dubos (1961,1965).

C.  GAMBARAN UMUM TEORI LEVINE
Teori Myra Estin Levine dikenal dangan Konservasi Model. Model Konservasi Levine difokuskan dalam mempromosikan keseluruhan adaptasi dan pemeliharaan dengan menggunakan prinsip-prinsip konservasi. Model ini memandu perawat untuk berfokus pada pengaruh-pengaruh dan respon-respon di tingkatan yang organismik. Perawat memenuhi sasaran dari model melalui konservasi energi, struktur, dan integritas sosial dan pribadi (Levine, 1967 dalam Tomey & Alligood, 2006). Walaupun konservasi adalah fundamental terhadap hasil-hasil yang diharapkan ketika model itu digunakan. Model Levine   didasari 3 konsep utama, yaitu adaptasi (adaptation,), wholeness,  dan konservasi (conservation) (Levine dalam Parker, 2001).
1.      Adaptasi
Adaptasi adalah proses berubah, dan konservasi adalah hasil adaptasi. Adaptasi adalah proses dimana klien memelihara integritas di dalam lingkungan yang nyata baik internal maupun eksternal (Levine, 1966, 1989 dalam Tomey & Alligood, 2006)). Adaptasi adalah konsekuensi dari interaksi antara orang dengan lingkungan. Keberhasilan dalam menghadapi lingkungan tergantung dari adekuatnya adaptasi (Levine, 1990). Tujuan utama dalam proses adaptasi adalah tercapainya suatu keutuhan dalam diri individu          ( wholeness ), keutuhan ini merupakan hasil respon individu terhadap pola hubungan antar individu yang saling menguntungkan secara menyeluruh, alami dan berlangsung secara terus menerus.
Levine (1991) dalam Parker (2001) dan Tomey & Alligood (2006) mengemukakan 3 (tiga) karakteristik dari adaptasi yaitu :
1.      Historicity
Adaptasi merupakan proses historis, dimana respon didasarkan pada pengalaman masa lalu baik itu dari segi personal maupun genetik.
2.      Specifity
Adaptasi juga bersifat spesifik, artinya bahwa pada perilaku individu memiliki pola stimulus respon yang spesifik dan unik dalam aktivitas kehidupan sehari-hari
3.      Redundancy
Adaptasi bersifat redundancy yang berarti pilihan akan selamat atau gagal oleh individu untuk memastikan terjadinya adaptasi yang berkelanjutan. Jika suatu sistem tubuh tidak mampu beradaptasi, maka sistem yang lain akan mengambil alih dan melengkapi tugasnya. Redundancy dipengaruhi oleh trauma, usia, penyakit atau kondisi lingkungan yang membuat individu tersebut sulit untuk mempertahankan hidup

Lingkungan
Dalam menjalani proses adaptasi individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan baik internal maupun eksternal. Lingkungan internal meliputi fisiolosis dan pathofisiologis. Lingkungan internal juga merupakan integrasi dari fungsi tubuh yang menyerupai hemoresis dibanding hemostasis. Homeorrhesis didefinisikan sebagai suatu alirang yang terstabilisasi dibanding kondisi yang statis. Homeorrhesis mendiskripsikan pola adaptasi yang meberikan tubuh individu untuk mempertahankan keadaan kesejahteraan dengan perubahan yang cepat yang berasal dari lingkungan. Pembagian energy Homeostasis adalah suatu kondisi dari pembagian energi yang juga memberikan dasar yang perlu untuk singkronisasi factor fisiologis dan psikologis yang banyak.
Levine menggunakan definisi Bates (1967) dalam Tomey & Alligood (2006) dalam mendefinisikan lingkungan eksternal yang terdiri dari tiga level, yaitu :
1.      Perseptual
Lingkungan perceptual adalah bagian dari lingkungan eksternal dimana individu berespon terhadap sumber sensori seperti cahaya, suara, sentuhan, suhu, perubahan kimia yang dibau atau yang dirasa.

2.      Operasional
Lingkungan operasional elemen-elemen yang mungkin secara fisik mempengaruhi individu tetapi tidak dirasakan individu merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang berinteraksi dengan jaringan kehidupan seperti radiasi, mikroorganisme, polutan .
3.      Konseptual
Lingkungan konseptual merupakan lingkungan eksternal yang terdiri dari bahasa, ide,symbol, spiritual, keyakinan, dan tradisi, budaya dan etnis, pola psikologis individu yang diperoleh dari pengalaman hidup.
Kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan disebut sebagai respon Organismik. Respon tersebut terdiri dari 4 tingkatan, yaitu : (Levine dalam Tomey & Alligood, 2006 dan Parker, 2001):
           
1.         Fight or Flight
Merupakan respon yang paling primitif dimana ancaman diterima individu baik nyata maupun tidak, merupakan respon terhadap ketakutan melalui menyerang atau menghindar dan merupakan reaksi yang tiba-tiba. Respon yang disampaikan adalah kewaspadaan mencari informasi untuk rasa aman dan sejahtera.
2.         Respon terhadap peradangan
Merupakan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari lingkungan yang merusak, merupakan cara untuk menyembuhkan diri. Respon individu adalah menggunakan energi sistemik yang ada dalam dirinya untuk membuang iritan yang merugikan.
3.         Respon terhadap stres
Merupakan respon defensif dalam bentuk perubahan yang tidak spesifik pada manusia, perubahan struktural dan kehilangan energi untuk beradaptasi secara bertahap terjadi sampai rasa lelah terjadi atau sampai dengan klien atau individu berespon terhadap pelayanan keperawatan.

4.         Kewaspadaan perseptual
Informasi dan pengalaman hidup hanya bermanfaat ketika diterima secara utuh oleh individu, semua pertukaran energi terjadi dari individu ke lingkungan dan sebaliknya. Hasilnya adalah aktivitas fisiologi atau tingkah laku. Respon ini sangat tergantung kepada kewaspadaan perceptual individu, hanya terjadi saat individu menghadapi lingkungan baru di sekitarnya dengan cara mencari dan mengumpulkan informasi dimana hal ini bertujuan untuk mempertahankan keamanan dirinya.


Beberapa proses adaptasi dapat berhasil, beberapa yang lain bisa tidak dapat berhasil atau gagal. Penekanan pada proses  adaptasi ini  adalah mengenai tingkatan bukan pada proses berhasil atau gagal, jadi tidak mengenal proses maladaptasi.

2.      Wholeness
Konsep Wholeness  dari  Levine didasari dari teori Erikson; different between total and whole (1984,1986) yang menyatakan :
“wholeness emphasizes a sound, organic, progressive, mutuality between diversified fungtion and parts  within an intirety, the boundaries of which open and fluen” (P.98)
Dari definisi yang dikemukakan oleh Erikson diatas, Levine menganggap bahwa Wholeness merupakan system terbuka dan menggabungkan bagian-bagian untuk sebuah keutuhan untuk menghadapi perubahan lingkungan. Wholeness didasarkan pada uraian keseluruhan sebagai satu sistem terbuka yang berarti wholeness menekankan suatu  bunyi, organik, dan progresif yang sama antara fungsi-fungsi yang beraneka ragam dan bagian secara keseluruhan, serta batasan-batasan yang bersifat terbuka (Levine dalam Parker,2001).



4.      Konservasi
Konservasi berarti cara yang kompleks untuk melakukan fungsinya pada saat tantangan berat menghalanginya. Konservasi juga menjelaskan suatu sistem yang kompleks yang mampu melanjutkan fungsi ketika terjadi tantangan yang buruk. Dalam hal ini bahwa individu mampu untuk berkonfrontasi dan beradaptasi demi mempertahankan keunikan mereka. Melalui konservasi ini individu mampu menghadapi tantangan, melakukan adaptasi dan tetap mempertahankan keunikan pribadi. Perhatian utama pada konservasi adalah menjaga keutuhan individu (Levine dalam Parker, 2001 dan Tomey & Alligood, 2006).
Model Konservasi “Levine” berfokus pada individu sebagai makhluk yang holistik, dan bidang utama dari perhatian perawat dalam pemeliharaan individu secara keseluruhan.  Polit & Henderson (1995) mendefinisikan ilmu keperawatan sebagai dukungan dan intervensi terapeutik berdasar pada ilmu pengetahuan atau terapeutik (Ruddy, 2007). Model Levine menekankan pada proses interaksi dan intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk peningkatan kemampuan beradaptasi dan mempertahankan keutuhan tersebut. Tindakan keperawatan berdasar pada empat prinsip, yaitu (Levine dalam Ruddy, 2007):
1.         Konservasi energi
Merupakan keseimbangan dan perbaikan energi yang dibutuhkan individu untuk melakukan aktivitas. Hal tersebut juga termasuk keseimbangan energi input dan output untuk menghindari kelemahan yang berlebihan. Contohnya adalah proses penyembuhan dan proses penuaan. Intervensi keperawatan dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemenuhan kebutuhan. Contoh lain adalah istirahat yang adekuat, mempertahankan nutrisi yang adekuat dan aktivitas.
2.         Konservasi Integritas struktural
Penyembuhan adalah proses  perbaikan integritas struktur dan fungsi dalam mempertahankan keutuhan diri. Contohnya bila menghadapi individu pasca amputasi, perawat harus membantu  individu tersebut untuk menuju tingkat adaptasi baru. Contoh tindkan lain adalah membantu klien dalam latihan ROM, mempertahankan personal hygiene klien.
3.         Konservasi Integritas personal
Menyadari pentingnya harga diri dan identitas diri klien serta penghormatan terhadap privasi. Dalam hal ini, perawat dalam melakukan intervensi keperawatan harus menghargai keberadaannya seperti menghargai nilai dan norma yang dianut serta keinginannya, menyapa dengan sopan, meminta izin sebelum melakukan tindakan dan melakukan tahapan terminasi setelah melakukan tindakan dan sebelum meninggalkan klien. Selain itu, perawat juga memahami, menghargai dan melindungi kebutuhan akan jarak (space).
4.         Konservasi Integritas sosial
Keterlibatan anggota keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keagamaan atau spiritual dan penggunaan hubungan interpersonal. Individu mendapatkan makna kehidupan melalui komunitas sosial. Perawat membantu menghadirkan anggota keluarga dan menggunakan hubungan interpersonal untuk menjaga integritas sosial.
D.     4 KONSEP UTAMA KEPERAWATAN MENURUT LIVINE

E.     IMPLIKASI PRAKTEK KEPERAWATAN TEORI LEVINE

Praktik keperawatan diarahkan pada peningkatan wholness untuk semua individu baik yang sehat maupun yang sakit. Pasien atau klien merupakan partner atau participant dalam asuhan keperawatan. Tujuan keperawatan untuk mengahiri ketergantungan secepat mungkin. Metodelogi praktek menurut Levine adalah proses keperawatan yang diarahkan menuju konservatif yang terdiri dari 3 langkah yaitu (Levine dalam Schaefer,2006):
1.      Trophicognosis
Levine merekomendasikan Trophicognosis sebagai suatu alternative diagnose keperawatan. Trophicognosis merupakan formula dalam asuhan keperawatan yang dicapai melalui metode ilmu pengetahuan. Perawat mengobservasi dan mengumpulkan data yang akan mempengaruhi praktek keperawatan.
Perawat mengkaji konservasi energi pasien dengan menentuan kemampuan pasien untuk menunjukan kebutuhan aktivitas tampa menghasilkan kelemahan yang berlebihan.
Perawat meserta pengalaman hidup pasien mengkaji konservasi integritas structural dengan menentukan fungsi fisiknya.
Perawat mengkaji integritas personal pasien dengan menentukan nilai moral dan etis serta pengalaman hidup pasien. Perawat mengkaji konservasi integritas pasien dengan berbicara dengan anggota keluarga pasien, teman dan lingkungan konseptual.  
2.      Intervensi/tindakan.
Perawat mengimplementasikan rencana askep disesuaikan dengan struktur kebijakan yang administrative, ketersediaan alat, dan pengembangan standar keperawatan
Tipe intervensi keperawatan meliputi :
a.       Terapeutik
b.      Supportif
c.       Intervensi yang dibangun dari 4 (empat) prinsip konservasi yang terdiri konservasi energi, konservasi integritas struktural, konservasi integritas personal dan konservasi integritas sosial.
3.      Evaluasi
Perawat mengevaluasi pengaruh dari tindakan yang sudah dilakukan serta merevisi tropikognosi jika dibutuhan. Indikator keberhasilan intervensi ditentukan dengan respon organismik pasien.