Selasa, 01 Februari 2011

Model Konservasi Levine

PEMAPARAN TINJAUAN TEORI
A.    GRAND TEORI
Suatu grand theory terdiri dari suatu kerangka konseptual global yang menggambarkan perspektif luas untuk praktik dan termasuk cara yang berbeda mengamati fenomena keperawatan berdasar pada perspektif-perspektif  tersebut (Tomey & Alligood, 2006).
Konsepsual model dan grand theory mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) cakupannya luas dan kompleks; (2) para ahli mengatakan grand theory merupakan rumusan teoritis mereka pada tingkat abstraksi yang sangat umum; (3) Sering dijumpai kesulitan dalam mengaitkan rumusan tersebut dengan realita; (4) Membedakan disiplin ilmu keperawatan dengan ilmu medis, dapat membantu perawat dalam menemukan dan mencapai tujuan keperawatan

B.     PROFIL DARI MIRA LESTIN LEVINE.
Mira Lestin Levine lahir di Chicago pada tahun 1920. Latar belakang pendidikannya adalah tamat Diploma Keperawatan tahun 1944, SB di Chicago University tahun 1949, kemudian tahun 19 menyandang Master Ilmu Keperawatan dari Wayne State University,menjadi Professor dalam Keperawatan medical Bedah tahun 1987.
Dalam karirnya sebagai perawat, Levine menjalani pekerjaan bervariasi antara lain perawat pribadi (1944), perawat di ketetaraan Amerika Serikat (1945), Instruktur praklinik dp physical sciences Cook Country (1947-1950),Direktur Keperawatan di Drexel Home Chicago (1950 – 1951, surgical supervaisor pada 2 rumah sakit yaitu klinik Universitas Chicago (1951-1952) dan Rumah Sakit Hendry Ford Detroit (1956 - 1962). PadaLevine juga mendapat banyak tanda jasa meliputi Charter Fellow of American Academy of Nursing, gelar kehormatan menjadi anggota bantuan kesehatan mental Amerika untuk Israil (1976), penghargaan Elizabeth Russell Belford (1977), American Journal of Nursing Book of the year.Levine pension pada tahun 1987, kemudian aktif mengembangkan teori dan melakukan penelitian berhubungan dengan teorinya.

C.    SUMBER TEORI LEVINE
Dalam mengembangkan teorinya Levine menggunakan dasar pemikiran yaitu perjalanan penyakit dan pandangan individu terhadap perubahan penyakit. teori-teori yang dipakai sebagai sumber teori Levine adalah teori Beland(1971); theory of specific causation and multiple factors, Gibson’s (1966); definition of perceptual system, Erikson’s (1964); different between total and whole, Selye’s (1956); stress theory, Bate’s (1967); model of external environment, Rogess (1970), dan Nigtinggale. Disamping itu Levine dalam mengembangkan teorinya dipengaruhi oleh teori Goldstein (1963), Hall (1966), Sherrington (1960), dan Dubos (1961,1965).

C.  GAMBARAN UMUM TEORI LEVINE
Teori Myra Estin Levine dikenal dangan Konservasi Model. Model Konservasi Levine difokuskan dalam mempromosikan keseluruhan adaptasi dan pemeliharaan dengan menggunakan prinsip-prinsip konservasi. Model ini memandu perawat untuk berfokus pada pengaruh-pengaruh dan respon-respon di tingkatan yang organismik. Perawat memenuhi sasaran dari model melalui konservasi energi, struktur, dan integritas sosial dan pribadi (Levine, 1967 dalam Tomey & Alligood, 2006). Walaupun konservasi adalah fundamental terhadap hasil-hasil yang diharapkan ketika model itu digunakan. Model Levine   didasari 3 konsep utama, yaitu adaptasi (adaptation,), wholeness,  dan konservasi (conservation) (Levine dalam Parker, 2001).
1.      Adaptasi
Adaptasi adalah proses berubah, dan konservasi adalah hasil adaptasi. Adaptasi adalah proses dimana klien memelihara integritas di dalam lingkungan yang nyata baik internal maupun eksternal (Levine, 1966, 1989 dalam Tomey & Alligood, 2006)). Adaptasi adalah konsekuensi dari interaksi antara orang dengan lingkungan. Keberhasilan dalam menghadapi lingkungan tergantung dari adekuatnya adaptasi (Levine, 1990). Tujuan utama dalam proses adaptasi adalah tercapainya suatu keutuhan dalam diri individu          ( wholeness ), keutuhan ini merupakan hasil respon individu terhadap pola hubungan antar individu yang saling menguntungkan secara menyeluruh, alami dan berlangsung secara terus menerus.
Levine (1991) dalam Parker (2001) dan Tomey & Alligood (2006) mengemukakan 3 (tiga) karakteristik dari adaptasi yaitu :
1.      Historicity
Adaptasi merupakan proses historis, dimana respon didasarkan pada pengalaman masa lalu baik itu dari segi personal maupun genetik.
2.      Specifity
Adaptasi juga bersifat spesifik, artinya bahwa pada perilaku individu memiliki pola stimulus respon yang spesifik dan unik dalam aktivitas kehidupan sehari-hari
3.      Redundancy
Adaptasi bersifat redundancy yang berarti pilihan akan selamat atau gagal oleh individu untuk memastikan terjadinya adaptasi yang berkelanjutan. Jika suatu sistem tubuh tidak mampu beradaptasi, maka sistem yang lain akan mengambil alih dan melengkapi tugasnya. Redundancy dipengaruhi oleh trauma, usia, penyakit atau kondisi lingkungan yang membuat individu tersebut sulit untuk mempertahankan hidup

Lingkungan
Dalam menjalani proses adaptasi individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan baik internal maupun eksternal. Lingkungan internal meliputi fisiolosis dan pathofisiologis. Lingkungan internal juga merupakan integrasi dari fungsi tubuh yang menyerupai hemoresis dibanding hemostasis. Homeorrhesis didefinisikan sebagai suatu alirang yang terstabilisasi dibanding kondisi yang statis. Homeorrhesis mendiskripsikan pola adaptasi yang meberikan tubuh individu untuk mempertahankan keadaan kesejahteraan dengan perubahan yang cepat yang berasal dari lingkungan. Pembagian energy Homeostasis adalah suatu kondisi dari pembagian energi yang juga memberikan dasar yang perlu untuk singkronisasi factor fisiologis dan psikologis yang banyak.
Levine menggunakan definisi Bates (1967) dalam Tomey & Alligood (2006) dalam mendefinisikan lingkungan eksternal yang terdiri dari tiga level, yaitu :
1.      Perseptual
Lingkungan perceptual adalah bagian dari lingkungan eksternal dimana individu berespon terhadap sumber sensori seperti cahaya, suara, sentuhan, suhu, perubahan kimia yang dibau atau yang dirasa.

2.      Operasional
Lingkungan operasional elemen-elemen yang mungkin secara fisik mempengaruhi individu tetapi tidak dirasakan individu merupakan bagian dari lingkungan eksternal yang berinteraksi dengan jaringan kehidupan seperti radiasi, mikroorganisme, polutan .
3.      Konseptual
Lingkungan konseptual merupakan lingkungan eksternal yang terdiri dari bahasa, ide,symbol, spiritual, keyakinan, dan tradisi, budaya dan etnis, pola psikologis individu yang diperoleh dari pengalaman hidup.
Kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan disebut sebagai respon Organismik. Respon tersebut terdiri dari 4 tingkatan, yaitu : (Levine dalam Tomey & Alligood, 2006 dan Parker, 2001):
           
1.         Fight or Flight
Merupakan respon yang paling primitif dimana ancaman diterima individu baik nyata maupun tidak, merupakan respon terhadap ketakutan melalui menyerang atau menghindar dan merupakan reaksi yang tiba-tiba. Respon yang disampaikan adalah kewaspadaan mencari informasi untuk rasa aman dan sejahtera.
2.         Respon terhadap peradangan
Merupakan mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari lingkungan yang merusak, merupakan cara untuk menyembuhkan diri. Respon individu adalah menggunakan energi sistemik yang ada dalam dirinya untuk membuang iritan yang merugikan.
3.         Respon terhadap stres
Merupakan respon defensif dalam bentuk perubahan yang tidak spesifik pada manusia, perubahan struktural dan kehilangan energi untuk beradaptasi secara bertahap terjadi sampai rasa lelah terjadi atau sampai dengan klien atau individu berespon terhadap pelayanan keperawatan.

4.         Kewaspadaan perseptual
Informasi dan pengalaman hidup hanya bermanfaat ketika diterima secara utuh oleh individu, semua pertukaran energi terjadi dari individu ke lingkungan dan sebaliknya. Hasilnya adalah aktivitas fisiologi atau tingkah laku. Respon ini sangat tergantung kepada kewaspadaan perceptual individu, hanya terjadi saat individu menghadapi lingkungan baru di sekitarnya dengan cara mencari dan mengumpulkan informasi dimana hal ini bertujuan untuk mempertahankan keamanan dirinya.


Beberapa proses adaptasi dapat berhasil, beberapa yang lain bisa tidak dapat berhasil atau gagal. Penekanan pada proses  adaptasi ini  adalah mengenai tingkatan bukan pada proses berhasil atau gagal, jadi tidak mengenal proses maladaptasi.

2.      Wholeness
Konsep Wholeness  dari  Levine didasari dari teori Erikson; different between total and whole (1984,1986) yang menyatakan :
“wholeness emphasizes a sound, organic, progressive, mutuality between diversified fungtion and parts  within an intirety, the boundaries of which open and fluen” (P.98)
Dari definisi yang dikemukakan oleh Erikson diatas, Levine menganggap bahwa Wholeness merupakan system terbuka dan menggabungkan bagian-bagian untuk sebuah keutuhan untuk menghadapi perubahan lingkungan. Wholeness didasarkan pada uraian keseluruhan sebagai satu sistem terbuka yang berarti wholeness menekankan suatu  bunyi, organik, dan progresif yang sama antara fungsi-fungsi yang beraneka ragam dan bagian secara keseluruhan, serta batasan-batasan yang bersifat terbuka (Levine dalam Parker,2001).



4.      Konservasi
Konservasi berarti cara yang kompleks untuk melakukan fungsinya pada saat tantangan berat menghalanginya. Konservasi juga menjelaskan suatu sistem yang kompleks yang mampu melanjutkan fungsi ketika terjadi tantangan yang buruk. Dalam hal ini bahwa individu mampu untuk berkonfrontasi dan beradaptasi demi mempertahankan keunikan mereka. Melalui konservasi ini individu mampu menghadapi tantangan, melakukan adaptasi dan tetap mempertahankan keunikan pribadi. Perhatian utama pada konservasi adalah menjaga keutuhan individu (Levine dalam Parker, 2001 dan Tomey & Alligood, 2006).
Model Konservasi “Levine” berfokus pada individu sebagai makhluk yang holistik, dan bidang utama dari perhatian perawat dalam pemeliharaan individu secara keseluruhan.  Polit & Henderson (1995) mendefinisikan ilmu keperawatan sebagai dukungan dan intervensi terapeutik berdasar pada ilmu pengetahuan atau terapeutik (Ruddy, 2007). Model Levine menekankan pada proses interaksi dan intervensi keperawatan yang diberikan bertujuan untuk peningkatan kemampuan beradaptasi dan mempertahankan keutuhan tersebut. Tindakan keperawatan berdasar pada empat prinsip, yaitu (Levine dalam Ruddy, 2007):
1.         Konservasi energi
Merupakan keseimbangan dan perbaikan energi yang dibutuhkan individu untuk melakukan aktivitas. Hal tersebut juga termasuk keseimbangan energi input dan output untuk menghindari kelemahan yang berlebihan. Contohnya adalah proses penyembuhan dan proses penuaan. Intervensi keperawatan dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemenuhan kebutuhan. Contoh lain adalah istirahat yang adekuat, mempertahankan nutrisi yang adekuat dan aktivitas.
2.         Konservasi Integritas struktural
Penyembuhan adalah proses  perbaikan integritas struktur dan fungsi dalam mempertahankan keutuhan diri. Contohnya bila menghadapi individu pasca amputasi, perawat harus membantu  individu tersebut untuk menuju tingkat adaptasi baru. Contoh tindkan lain adalah membantu klien dalam latihan ROM, mempertahankan personal hygiene klien.
3.         Konservasi Integritas personal
Menyadari pentingnya harga diri dan identitas diri klien serta penghormatan terhadap privasi. Dalam hal ini, perawat dalam melakukan intervensi keperawatan harus menghargai keberadaannya seperti menghargai nilai dan norma yang dianut serta keinginannya, menyapa dengan sopan, meminta izin sebelum melakukan tindakan dan melakukan tahapan terminasi setelah melakukan tindakan dan sebelum meninggalkan klien. Selain itu, perawat juga memahami, menghargai dan melindungi kebutuhan akan jarak (space).
4.         Konservasi Integritas sosial
Keterlibatan anggota keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keagamaan atau spiritual dan penggunaan hubungan interpersonal. Individu mendapatkan makna kehidupan melalui komunitas sosial. Perawat membantu menghadirkan anggota keluarga dan menggunakan hubungan interpersonal untuk menjaga integritas sosial.
D.     4 KONSEP UTAMA KEPERAWATAN MENURUT LIVINE

E.     IMPLIKASI PRAKTEK KEPERAWATAN TEORI LEVINE

Praktik keperawatan diarahkan pada peningkatan wholness untuk semua individu baik yang sehat maupun yang sakit. Pasien atau klien merupakan partner atau participant dalam asuhan keperawatan. Tujuan keperawatan untuk mengahiri ketergantungan secepat mungkin. Metodelogi praktek menurut Levine adalah proses keperawatan yang diarahkan menuju konservatif yang terdiri dari 3 langkah yaitu (Levine dalam Schaefer,2006):
1.      Trophicognosis
Levine merekomendasikan Trophicognosis sebagai suatu alternative diagnose keperawatan. Trophicognosis merupakan formula dalam asuhan keperawatan yang dicapai melalui metode ilmu pengetahuan. Perawat mengobservasi dan mengumpulkan data yang akan mempengaruhi praktek keperawatan.
Perawat mengkaji konservasi energi pasien dengan menentuan kemampuan pasien untuk menunjukan kebutuhan aktivitas tampa menghasilkan kelemahan yang berlebihan.
Perawat meserta pengalaman hidup pasien mengkaji konservasi integritas structural dengan menentukan fungsi fisiknya.
Perawat mengkaji integritas personal pasien dengan menentukan nilai moral dan etis serta pengalaman hidup pasien. Perawat mengkaji konservasi integritas pasien dengan berbicara dengan anggota keluarga pasien, teman dan lingkungan konseptual.  
2.      Intervensi/tindakan.
Perawat mengimplementasikan rencana askep disesuaikan dengan struktur kebijakan yang administrative, ketersediaan alat, dan pengembangan standar keperawatan
Tipe intervensi keperawatan meliputi :
a.       Terapeutik
b.      Supportif
c.       Intervensi yang dibangun dari 4 (empat) prinsip konservasi yang terdiri konservasi energi, konservasi integritas struktural, konservasi integritas personal dan konservasi integritas sosial.
3.      Evaluasi
Perawat mengevaluasi pengaruh dari tindakan yang sudah dilakukan serta merevisi tropikognosi jika dibutuhan. Indikator keberhasilan intervensi ditentukan dengan respon organismik pasien.

Dorothea Orem

Keperawatan mandiri (self care) menurut Orem’s adalah suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit” (Orem’s 1980).
Pada dasarnya diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri, kecuali bila tidak mampu. Menurut Orem asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempelajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan, teori ini dikenal dengan teori self care (perawatan diri).

A.    Orem’s  Self Care Deficit Theory
Teori orem  (self-care deficit theori of nursing)  di susun atas tiga teori yang berhubungan :
1.      Theory of self-care deficit 
4
 
Orang-orang dapat mengambil keuntungan dari perawatan karena mereka merupakan subjek pembatasan hubungan  kesehatan atau turunan kesehatan yang membuat mereka tidak mampu  membuat perawatan mandiri  secara terus menerus  atau perawatan dependen  atau membuat hasil yang tidak efektif atau perawatan yang tidak lengkap
2.      Theory of self-care
Self-care dan perawatan anggota-anggota keluarga yang dependen  diajarkan perilaku-perilaku  yang ditujukan untuk mengatur  integritas struktur manusia, fungsionalisasi dan perkmbangan manusia
3.      Theory of nursing systems
System-sistem keperawatan dibentuk ketika para perawat menggunakan  kemampuan mereka untuk  menulis (menentapkan), merancang, dan memberikan  perawatan bagi pasien (sebagai individu atau kelompok) dengan mengerjakan upaya-upaya khusus dan system-sistem pengupayaan.  Upaya-upaya ini atau system  yang mengatur nilai kemampuan  individu-individu berlatih dengan hubungannya untuk merawat mandiri dan memenuhi syarat-syarat perawatan mandiri bagi individu secara teraupetik.
Text Box: conditioning factors Text Box: conditioning factors
 





Text Box: conditioning factors                                <
 





Penjelasan gambar :
Self care adalah kemampuan individu  untuk melakukan perawatan  diri. Perawatan diri dapat mengalami gangguan atau hambatan  bila seseorang jatuh pada kondisi sakit  atau kondisi yang melelahkan seperti stress fisik dan psikologis. Self care deficit terjadi bila agen self care  atau orang yang memberikan perawatan diri  baik pada diri sendiri maupun pada orang lain  tidak dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri individu dan lebih memberikan self care theraupetic. Nursing agency menggunakan kegiatan gabungan berarti bahwa kegiatan perawat perlu dikoordinasi, dilakukan secara serentak atau berhubungan dengan layanan asuhan keperawatan  yang akan diberikan. Seseorang yang melakukan kegiatan ini harus mempunyai pengetahuan tentang asuhan keperawatan  yang diberikan sehingga dapat mengambil suatu keputusan yang tepat bagi klien.
a.      Nursing Agency (Agen keperawatan)
Nursing Agency adalah  karakteristik orang yang mampu  memenuhi status perawat dalam kelompok-kelompok  sosial. “Tersedianya perawatan bagi individu laki-laki, wanita, dan anak atau kumpulan manusia seperti keluarga-keluarga, memerlukan agar perawat memiliki kemampuan khusus yang memungkinkan mereka  memberikan perawatan yang akan menggantikan  kerugian atan bantuan  dalam mengatasi turunan kesehatan  atau hubungan perawatan  mandiri-kesehatan  atau perawatan dependen  deficit bagi orang lain. Kemampuan yang khusus merupakan agen keperawatan

b.      Self-care Agency (Agen perawatan sendiri)
Self-care Agency adalah kekuatan individu yang berhubungan  dengan perkiraan dan essensial operasi-operasi produksi untuk perawatan mandiri
c.       Theraupetik self-care demand (permintaan perawatan  sendiri)
self-care demand  adalah totalitas upaya-upaya  perawatan sendiri yang ditampilkan  untuk beberapa waktu agar menemukan  syarat-syarat erawatan mandiri dengan cara menggunakan metode-metode  yang valid dan berhubungan dengan perangkat-perangkat  operasi atau penanganan
d.      Self – Care (perawatan sendiri)
Self-care adalah suatu kontribusi berkelanjutan orang dewasa bagi eksistensinya , kesehatannya, dan kesejahteraanya. Perawatan sendiri adalah latihan aktivitas yang individu-individunya  memulai dan menampilkan kepentingan mereka dalam mempertahankan individu , kesehatan dan kesejahteraan.
e.       Self-care Deficit
Self-care Deficit adalah  hubungan antara self –care agency dengan self-care demand yang di dalamnya  self-care agency tidak cukup mampu menggunakan  self-care demand .

B.     Keyakinan dan nilai-nilai

1.                              Keyakinan Orem’s tentang empat konsep utama keperawatan adalah
a.       Klien
Individu atau kelompok yang tidak mampu secara terus menerus mempertahankan self care untuk hidup dan sehat, pemulihan dari sakit/trauma atau coping dan efeknya.
b.      Sehat
Kemampuan individu atau kelompok memenuhi tuntutan self care yang berperan untuk mempertahankan dan meningkatkan integritas struktural fungsi dan perkembangan.
c.       Lingkungan     
Tatanan dimana klien tidak dapat memenuhi kebutuhan keperluan  self care dan perawat termasuk di dalamnya tetapi tidak spesifik.
d.      Keperawatan
Pelayanan yang dengan sengaja dipilih atau kegiatan yang dilakukan untuk membantu individu, keluarga dan kelompok masyarakat dalam mempertahankan seft care yang mencakup integrias struktural, fungsi dan perkembangan.                     
2.      Tiga kategori self care

Model Orem’s, meyebutkan ada beberapa kebutuhan self care atau yang disebutkan sebagai keperluan self care (sefl care requisite), yaitu
a. Universal self care requisites (kebutuhan perawatan diri universal)
   Kebutuhan yang umumnya dibutuhkan oleh manusia selama siklus kehidupannya seperti kebutuhan fisiologis dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas, istirahat, sosial, dan pencegahan bahaya. Hal tersebut dibutuhkan manusia untuk perkembangan dan pertumbuhan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan lainnya yang berguna bagi kelangsungan hidupnya.
b.  Development self care requisites
kebutuhan yang berhubungan dengan pertumbuhan manusia dan proses perkembangannya, kondisi, peristiwa yang terjadi selama variasi tahap dalam siklus kehidupan (misal, bayi prematur dan kehamilan) dan kejadian yang dapat berpengaruh buruk terhadap perkembangan. Hal ini berguna untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.
c. Health deviation self care requisites (kebutuhan perawatan diri penyimpangan kesehatan): kebutuhan yang berhubungan dengan genetik atau keturunan,kerusakan struktur manusia, kerusakan atau penyimpanngan cara, struktur norma, penyimpangan fungsi atau peran dengan pengaruhnya, diagnosa medis dan penatalaksanaan terukur beserta pengaruhnya, dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care.
 Tiga jenis kebutuhan tersebut didasarkan oleh beberapa asumsi, yaitu:
  1. Human being (Kehidupan manusia): oleh alam, memiliki kebutuhan umum akan pemenuhan beberapa zat (udara, air, dan makanan) dan untuk mengelola kondisi kehidupan yang menyokong proses hidup, pembentukan dan pemeliharaan integritas structural, serta pemeliharaan dan peningkatan integritas fungsional.
  2. Perkembangan manusia: dari kehidupan di dalam rahim hingga pematangan ke dewasaan memerlukan pembentukan dan pemeliharaan kondisi yang meningkatkan proses pertumbuhan dan perkembangan di setiap periode dalam daur hidup.
  3. Kerusakan genetik maupun perkembangan dan penyimpangan dari struktur normal dan integritas fungsional serta kesehatan menimbulkan beberapa persyaratan/permintaan untuk pencegahan, tindakan pengaturan untuk mengontrol perluasan dan mengurangi dampaknya.
Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantuangan atau kebutuhan klien dan kemampuan klien. Oleh karena itu ada 3 tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri, yaitu:
  1. Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan klien yang tinggi (sistem pengganti keseluruhan).
  2. Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan (sistem pengganti sebagian).
  3. Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat (sistem dukungan/pendidikan). 
D.  Tujuan
 Tujuan keperawatan pada model Orem’s secara umum adalah :
1.      Menurunkan tuntutan self care kepada tingkat dimana klien dapat
memenuhinya, ini berarti menghilangkan self care deficit.
2.  Memungkinkan klien meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan
self care.
3.  Memungkinkan orang yang berarti (bermakna) bagi klien untuk memberikan asuhan depenent (dependent care) jika self care tidak memungkinkan, oleh karenanya self care deficit apapun dihilangkan.
4.  Jika ketiganya diatas tidak ada yang tercapai, perawat secara langsung dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan self care klien.

E. Pengetahuan dan Ketrampilan untuk Praktek
Perawat menolong klien untuk menemukan kebutuhan self care dengan menggunakan tiga kategori dalam system keperawatan dan melalui lima metode bantuan.
1.  Kategori Bantuan :
a.  Wholly Compensatory
Bantuan secara  keseluruhan, dibutuhkan untuk klien yang tidak mampu mengontrol dan memantau lingkungannya dan tidak berespon terhadap rangsangan.
b.      Partially Compensatory
Bantuan sebagian, dibutuhkan bagi klien yang mengalami keterbatasan gerak karena sakit atau kecelakaan.
c.       Supportive Education
Dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.



2.  Metode  Bantuan
Perawat membantu klien dengan menggunakan sistem dan melalui lima metode bantuan yang meliputi :
a.       Acting atau melakukan sesuatu untuk klien
memberikan pelayanan langsung dalam bentuk tindakan keperawatan
b.      Mengajarkan klien
Mengajarkan klien tentang prosedur dan aspek-aspek tindakan agar klien dapat melakukan perawatan dirinya secara mandiri
c.       mengarahkan klien
Memberikan arahan dan memfasilitasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri
d.      Mensupport klien
memberikan dorongan secara fisik dan psikologik agar klien dapat mengembangkan potensinya agar klien dapat melakukan perawatan secaran mandiri
e.  Menyediakan lingkungan untuk klien agar dapat tumbuh dan berkembang. 
Untuk melaksanakan hal tersebut, lima area utama untuk praktek keperawatan di
diskripsikan sebagai berikut :.
1.      Membina dan menjaga hubungan perawat-klien baik individu, keluarga atau kelompok sampai klien pulang
2.      Menentukan kondisi klien yang memerlukan bantuan perawat
3.      Berespon terhadap permintaan, keinginan dan kebutuhan klien akan kontak dan bantuan perawat
4.      Menetapkan, memberikan dan meregulasi bantuan secara langsung pada klien
5.      Mengkoordinasikan dan mengintegrasikan asuhan keperawatan dengan kegiatan sehari-hari klien, perawatan kesehatan lain, pemberian pelayanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan atau yang sedang diterima
F.     Konseptual Model Dorothea E. Orem dan Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langsung diberikan kepada pasien. Pada pelaksanaan asuhan keperawatan terdapat pendekatan dan metode utama yang digunakan yaitu metode memecahkan masalah secara ilmiah yang selanjutnya dikenal sebagai proses keperawatan (nursing process).
Proses keperawatan yang dijelaskan oleh Orem mempunyai tiga tahap proses keperawatan yang dikenal sebagai kegiatan proses teknologi dari praktek keperawatan. Tahapan tersebut meliputi: diagnosa keperawatan dan persepsi, mendisain sistem keperawatan dan perencanaan, dan memproduksi dan mengatur sistem keperawatan.
Adapun masing-masing tahap dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Tahap 1: Diagnosa keperawatan dan persepsi
Pada tahap ini memperjelas mengapa keperawatan dibutuhkan. Analisa dan interpretasi dalam membuat keputusan mengenai perawatan merupakan bentuk kegiatan manajemen kasus. Didalam diagnosa keperawatan memerlukan telaahan dan pengumpulan fakta tentang pasien termasuk self care agent dan therapeutic self-care demand dan hubungan keduannya sehingga dapat ditetapkan self-care deficit (Orem, 2001, p.309). Orem menegaskan bahwa dalam diagnosa keperawatan dan merupakan dasar  tujuan untuk memberikan arahan dalam melakukan tindakan keperawatan dan dalam pengobatan, kemampuan pasien dan minat keluarga serta bentuk dalam kolaborasi mempengaruhi tindakan keperawatan yang dilakukan perawat.
Pada tahap ini perawat melakukan pengkajian dan pengumpulan data berdasarkan enam area yang ditentukan oleh Orem yaitu: Status kesehatan perorangan, persepsi dokter terhadap kesehatan seseorang, persepsi pasien/individu berkaitan kesehata dirinya sendiri, tujuan kesehatan berkaitan dengan konteks riwayat kesehatan, gaya hidup dan status kesehatan, kebutuhan pasien/individu terhadap self-care  dan integritas/kapasitas pasien/individu melakukan self-care. Dari data-data dikumpulkan dan dikelompokkan kedalam area masing-masing, yaitu: Universal self-care requisites, developmental requisites dan healt-deviation sel-care requisites serta hubungan timbal baliknya. Selain data-data tersebut penting juga dikumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan, ketrampilan, motivasi dan orientasi pasien.
Pada tahap pertama ini, asuhan keperawatan pada teori orem dapat disimpulkan bahwa perawat harus mengajukan beberapa pertanyaan dan menjawab hal-hal yang berkaitan dengan: Apakah kebutuhan perawatan therapeutic pasien, sekarang, dan masa yang akan datang, apakah pasien mempunyai self-care demand dan untuk memenuhi therapeutic self-care demand-nya, apakah sifat dan alasan hal tersebut, apakah pasien perlu dibantu untuk menahan diri menggunakan self care, apakah untuk melindungi perkembagan kemampuan self-care dari tujuan terapetik, dan apakah potensi pasien untuk menggunakan self-care pada periode yang akan datang.
2.      Tahap 2 : Mendisain sistem keperawatan dan perencanaan
Tahap ini merupakan tahap dalam memberikan perawatan pada pasien dan membuat nursing system yang efisien dan efektif dan menentukan cara-cara yang benar dalam membantu self care pasien. Tahap ini termasuk mendisain bagaimana peran pasien dan peran perawat dalam melakukan self care yang dilakukan dalam memenuhi therapeutic self-care demand, dan mengatur latihan self-care agency, melindungi dan membantu self care agency.
Sedangkan perencanaan merupakan kegiatan mengarahkan dan cara untuk mengimplementasikan sistem keperawatan dan berhubungan dengan usaha untuk mendapatkan aktifitas tertentu saat perawat dengan klien beriteraksi.
3.      Tahap 3: Memproduksi dan manajemen sistem keperawatan,
Didalam tahap ketiga ini, perawat bekerja untuk menghasilkan dan mengatur sistem keperawatan. Perawat selama berinteraksi dengan pasien, dapat melakukan perencanaan dan control dan tahap ini mengatur sistem keperawatan serta menghasilkan kegiatan yang terencana untuk memenuhi therapeutic self-care demand dan mengatur latihan dan pengembangan kemampuan akan self-care.
Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi: Membatu, menuntun, mengarahkan, menstimulus minat, mendukung, meregulasi, mengkoordinasi dan memonitor tugas self-care sehingga sistem perawatan dapat berjalan dengan optimal.
Bentuk perbandingan antara langkah-langkah proses keperawatan umum dan proses keperawatan self care care deficit (Orem): (Tabel 1)
Proses Keperawatan
Proses Keperawatan Orem

1.      Pengkajian dan Diagnosa Keperawatan
Tahap 1.
Diagnosa dan persepsi; menentukan mengapa perawat dibutuhkan. Menganalisa dan menginterpretasi – membuat keputusan yang berkaitan dengan perawatan.

2.      Perencanaan

Tahap 2.
Mendisain sistem keperawatan dan merencanakan untuk memberikan perawatan
3.      Implementasi
4.      Evaluasi
Tahap 3.
Menghasilkan dan mengelola sistem keperawatan
(Sumber: Nursing Theories; The Base For Professional Nursing practice,Connecticut: Appleton dan Lange,h.109 dan Self-care Deficit Theory of Nursing; Concepts and Applications, St.Louis: Mosby h.106).

.


Diagnosa Keperawatan

Perencanaan
Implementasi
Evaluasi
Berdasarkan self care deficit
Tujuan dan sasaran:
1.       Sesuai dengan diagnosa keperawatan
2.       Berdasarkan self-care demand
3.       meningkatkan pasien sebagai self-care agent
Mendisain sistem keperawatan:
1.       Wholly compensatory
2.       Partly compensatory
3.       Supportive-educative
Motede yang tepat untuk menolong :
1.      Membimbing
2.       Mendukung
3.       mengajarkan
4.       Beraksi atau melakukan sesuatu
5.       Memberikan lingkungan yang berkembang
Tindakan perawat-pasien untuk:
1.       Meningkatkan pasien sebagai self-care agent
2.       Memenuhi kebutuhan self-care
3.       Menurunkan self-care deficit
Keefektifan tindakan perawat-pasien:
1.       Meningkatkan pasien sebagai self-care agent
2.       Memenuhi kebutuhan self-care
3.       Menurunnya selfcare deficit

(Sumber: Nursing theories; The base for professional nursing practice.Connecticut: Appleton & Lange, h.112-113)